Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Biografi KH. Aceng Zakaria


KH. Aceng Zakaria lahir di Garut 11 Oktober 1948 dari sebuah keluarga sederhana di kampung Sukarasa desa Citangtu Babakanloa Wanaraja. Ayahnya seorang ulama terkemuka di desanya. Oleh karena itu KH. Aceng Zakaria hidup berkembang di dalam lingkungan religius yang berpendidikan.
Biografi ulama persatuan Islam KH. Aceng Zakaria dimulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SD) Babakan Loa Garut hingga tahun 1967. Disamping itu, ia biasa mengaji kitab-kitab kuning, seperti Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti yang diadakan di rumah saudara kakaknya yang juga seorang ulama. Karena ketekunanya menelaah kitab kuning ia telah menamatkan Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti ketika lulus SR.
Karir KH. A. Zakaria diawali menyelesaikan pendidikannya di SR, kedua orang tuanya tidak menyuruh KH. Aceng Zakaria untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Namun kakanya, Asep Barhoya yang pernah tamat SMP meminta dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP.
Akhirnya kisah pada biodata Aceng Zakariya diceritakan memilih belajar agama di rumahnya sendiri sekaligus meringankan beban orangtuanya dengan membantu berladang di sawah dan kebun.
Di samping itu juga beliau aktif berorganisasi di PII (Pelajar Islam Indonesia) Wanaraja dan beberapa kali kerap disuruh untuk berceramah di depan masyarakat.
Keahliannya dalam membaca Arab gundul, memutuskan dia untuk mengajar kitab-kitab kuning kepada para santri di lingkungan rumahnya. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1969, Ustadz yang dulu suka memperbaiki jam ini, memutuskan untuk berangkat ke Bandung dan mencoba sekolah di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan.
Karena punya basic dalam membaca kitab, maka akhirnya K. H. Aceng Zakaria ditempatkan langsung di kelas satu muallimin (Aliyyah). Perkenalan dengan Persatuan Islam (Persis) sendiri telah dimulai sejak lama, khususnya melalui saudara kakanya dan karena factor lingkungan yang telah lama mengenal Persatuan Islam (Persis).
Melahirkan Buku
Di sela-sela kesibukannya belajar, KH. Aceng Zakaria yang tanpa lulusan perguruan tinggi atau universitas ternama ini mulai mencoba menulis rangkuman beberapa pelajaran, seperti Nahwiyyah dan Musthalah Hadits. Kebiasaannya ini berlangsung hingga dia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970.
Karena merasa masih kurang ilmunya, KH Aceng Zakaria belajar langsung dengan KH. E Abdurrahman setiap malam kamis di rumahnya. Pelajaran yang disampaikan sangat beragam, namun yang paling diutamakan adalah tafsir Ibn Kasir.
Setelah melihat bakat Aceng Zakaria, KH. E Abdurrahman pun tertarik untuk merekrutnya menjadi ustadz di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan. Tawaran ini pun langsung diambil olehnya.
Sesekali ia menyempatkan pulang ke Garut. Keluasan ilmunya yang telah lama ia dapatkan dari K.H. E. Abdurrahman dan dari kitab-kitab yang di baca, membuat dirinya diundang dalam acara diskusi yang sering diadakan oleh Pesantren Guntur Garut.
Bahkan sekitar tahun 1973, KH. Aceng Zakaria telah mulai berdiskusi masalah fiqh dengan beberapa ulama Garut seperti, Ajengan Karhi, Ajengan Ade, Ajengan Sulaiman dari Muhammadiyah dan beberapa ulama lainnya. Masalah yang diperdebatkan seputar membaca alfatihah di belakang imam, masalah qunut dan beberapa masalah fiqh kontroversial lainnya yang diselenggarakan sebulan sekali.
Hasil dari ketekunannya dalam mempelajari kitab-kitab Ulama terdahulu dan masa kini membawa pemikiran beliau menjadi kritis dan cermat dalam menghadapi setiap perdebatan. Dari acara inilah namanya mulai melambung dan menjadi bahan pembicaraan para ulama Garut.
Sekitar awal tahun 1975, KH. Aceng Zakaria tanpa gelar akademik memutuskan untuk pindah ke Garut atas permintaan dari Ibu Aminah Dahlan, salah seorang pendiri pesantren Persatuan Islam pertama di Garut. melihat kondisi umat Islam di Garut yang masih terbelenggu khurafat, tkhayyul dan kebid’ahan membuat dirinya rajin melakukan dakwah ke berbagai daerah di Garut.
Disamping ceramah diatas mimbar dia juga menyampaikan ceramah di salah satu station radio di Garut. Sesibuk apapun KH. Aceng Zakaria, Namun dedikasinya dalam mengajarkan ilmu Islam, khususnya Fiqh, tafsir, ilmu Bahasa Arab dan hadits tidak pernah dia tinggalkan. Ketika pertama kali menginjak Garut pun ia langsung mengajar di Pesantren Persatuan Islam Bentar Garut.
Beberapa ustadz di Garut meminta Aceng zakaria untuk mengajarkan ilmunya kepada mereka. Karena permintaan terus bertambah banyak, maka dia pun mengadakan pembinaan kepada para pengajar dan juru dakwah setiap malam jumat.
Pelajaran yang disampaikan seputar nahwiyyah, Fiqh dan tafsir. Khususnya bulan Ramadhan, para pengajar dan juru dakwah digembleng sebulan penuh dengan menyelesaikan pelajaran nahwiyyahyang dia susun ketika pertama kali sekolah di Pajagalan Bandung. Makalah-makalah dari penataran ini dia kumpulkan dan kemudian menjadi beberapa buku yang kini bereder hingga ke berbagai daerah di Indonesia seperti Irianjaya dan Aceh.
Salah satu karyanya yang monumental adalah Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah. Buku ini dirampungkan sebanyak tiga jilid pada bulan Ramadhan 1408 H serta mendapat apresiasi dari Dr. Ahmad Amr Hasyim salah seorang dosen Hadits di Universitas al Azhar Kairo Mesir yang memberikan kata sambutan dalam pembukaannya.
Beberapa karya KH. ustadz Aceng Zakaria diantaranya :
Buku Aqidah
Ilmu tauhid jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Pokok-pokok Ilmu Tauhid
Syahadat Bai`at dan Jamaah Islamiyyah
Buku Fiqh
Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah
Haramkah Isbal dan Wajibkah Janggut
Do`a – Do`a Shalat, Versi Indonesia dan Sunda
Do`a – Do`a Sehari-hari
Do’a Haji dan Umrah
Hadyu Rosul
Tarbiyah An-Nisa (Bahasa Arab)
Tarbiyah Nisa (Bahasa Indonesia)
Buku Bahasa
Al-Muyasar fi Ilmu Nahwi Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Al-Kafi (buku Tashrif) Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Tashrif 24 Jam
Nahwu terjemah
Kamus Tiga Bahasa (Indonesia – Arab – Inggris )
Ilmu Mantiq (Bahasa Arab)
Jadul Muta`alim (Bahasa Arab)
Adi`yyah, (Bahasa Arab)
Bidang tafsir
Al-Bayan fi Ulumul Qu`ran (Bahasa Arab)
Ilmu tajwid (Bahasa Arab)
Tafsir Al Fatihah (bahasa Indonesia)
Buku Hadits
Ilmu Musthalah hadits (Bahasa Arab)
Etika Hidup Seorang Muslim
Kitabul Adab, Jilid I dan II, (Bahasa Arab)

Selengkapnya

KH. Aceng Zakaria Ketua Umum PP. Persis Periode 2015 hingga 2020

Ketua umum Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat Persatuan Islam atau Persis periode masa jihad 2015-2020 saat sekarang ini adalah KH Aceng Zakaria. Beliau adalah seorang ulama pesantren yang diberi kepercayaan memimpin PP. Persis sampai muktamar di tahun 2020 yang akan datang.

Biografi KH. Aceng Zakaria terlihat dari kegiatan rutin yang biasa dilakukannya setiap hari, yaitu seorang pengajar di Pondok Pesantren Persis No.99 Rancabango dan mengisi pengajian atau seminar di berbagai tempat baik itu majlis ta'lim maupun di kampus perguruan tinggi. Selain itu segudang karya yang sampai sekarang menjadi acuan di beberapa sekolah tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Riwayat hidup KH. Aceng Zakari berasal dari kota Garut yang semenjak kecil gigih belajar dan banyak menghabiskan waktu mengaji dari beberapa guru dan kiai. Hingga akhirnya sampai di Pajagalan Bandung bertemu dengan tokoh-tokoh Persatuan Islam.

Profil selengkapnya terkait biodata KH Aceng Zakaria dapat disimak pada uraian berikut ini :

KH. Aceng Zakaria lahir di Garut 11 Oktober 1948 dari sebuah keluarga sederhana di kampung Sukarasa desa Citangtu Babakanloa Wanaraja. Ayahnya seorang ulama terkemuka di desanya. Oleh karena itu KH. Aceng Zakaria hidup berkembang di dalam lingkungan religius yang berpendidikan.

KH. Aceng Zakaria memulai pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat (SD) Babakan Loa Garut hingga tahun 1967. Disamping itu, ia biasa mengaji kitab-kitab kuning, seperti Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti yang diadakan di rumah saudara kakaknya yang juga seorang ulama. Karena ketekunanya menelaah kitab kuning ia telah menamatkan Safinah, Tijan Jurumiyah dan Imriti ketika lulus SR.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SR, kedua orang tuanya tidak menyuruh KH. Aceng Zakaria untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Namun kakanya, Asep Barhoya yang pernah tamat SMP meminta dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP.

Akhirnya ia pun memilih belajar agama di rumahnya sendiri sekaligus meringankan beban orangtuanya dengan membantu berladang di sawah dan kebun. Di samping itu juga dia aktif berorganisasi di PII (Pelajar Islam Indonesia) Wanaraja dan beberapa kali kerap disuruh untuk berceramah di depan masyarakat.

Keahliannya dalam membaca Arab gundul, memutuskan dia untuk mengajar kitab-kitab kuning kepada para santri di lingkungan rumahnya. Hingga pada akhirnya sekitar tahun 1969, Ustadz yang dulu suka memperbaiki jam ini, memutuskan untuk berangkat ke Bandung dan mencoba sekolah di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan.

Karena ia ahli dalam membaca kitab, maka akhirnya ditempatkan langsung di kelas satu muallimin (Aliyyah). Perkenalan dengan Persatuan Islam (Persis) sendiri telah dimulai sejak lama, khususnya melalui saudara kakanya dan karena factor lingkungan yang telah lama mengenal Persatuan Islam (Persis).

Karya Buku Kh. Aceng Zakaria
Di sela-sela kesibukannya belajar, KH. Aceng Zakaria mulai mencoba menulis rangkuman beberapa pelajaran, seperti Nahwiyyah dan Musthalah Hadits. Kebiasaannya ini berlangsung hingga dia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970.

Karena merasa masih kurang ilmunya, KH Aceng Zakaria belajar langsung dengan KH. E Abdurrahman setiap malam kamis di rumahnya. Pelajaran yang disampaikan sangat beragam, namun yang paling diutamakan adalah tafsir Ibn Kasir. Setelah melihat bakat Aceng Zakaria, KH. E Abdurrahman pun tertarik untuk merekrutnya menjadi ustadz di Pesantren Persatuan Islam (Persis) Pajagalan. Tawaran ini pun langsung diambil olehnya.

Sesekali ia menyempatkan pulang ke Garut. Keluasan ilmunya yang telah lama ia dapatkan dari K.H. E. Abdurrahman dan dari kitab-kitab yang di baca, membuat dirinya diundang dalam acara diskusi yang sering diadakan oleh Pesantren Guntur Garut.

Bahkan sekitar tahun 1973, KH. Aceng Zakaria telah mulai berdiskusi masalah fiqh dengan beberapa ulama Garut seperti, Ajengan Karhi, Ajengan Ade, Ajengan Sulaiman dari Muhammadiyah dan beberapa ulama lainnya. Masalah yang diperdebatkan seputar membaca alfatihah di belakang imam, masalah qunut dan beberapa masalah fiqh kontroversial lainnya yang diselenggarakan sebulan sekali.

Hasil dari ketekunannya dalam mempelajari kitab-kitab Ulama terdahulu dan masa kini membawa pemikiran beliau menjadi kritis dan cermat dalam menghadapi setiap perdebatan. Dari acara inilah namanya mulai melambung dan menjadi bahan pembicaraan para ulama Garut.

Sekitar awal tahun 1975, KH. Aceng Zakaria memutuskan untuk pindah ke Garut atas permintaan dari Ibu Aminah Dahlan, salah seorang pendiri pesantren Persatuan Islam pertama di Garut. melihat kondisi umat Islam di Garut yang masih terbelenggu khurafat, tkhayyul dan kebid’ahan membuat dirinya rajin melakukan dakwah ke berbagai daerah di Garut.

Disamping ceramah di atas mimbar dia juga menyampaikan ceramah di salah satu station radio di Garut. Sesibuk apapun KH. Aceng Zakaria, Namun dedikasinya dalam mengajarkan ilmu Islam, khususnya Fiqh, tafsir, ilmu Bahasa Arab dan hadits tidak pernah dia tinggalkan. Ketika pertama kali menginjak Garut pun ia langsung mengajar di Pesantren Persatuan Islam Bentar Garut.

Beberapa ustadz di Garut meminta Aceng zakaria untuk mengajarkan ilmunya kepada mereka. Karena permintaan terus bertambah banyak, maka dia pun mengadakan pembinaan kepada para pengajar dan juru dakwah setiap malam jumat.

Pelajaran yang disampaikan seputar nahwiyyah, Fiqh dan tafsir. Khususnya bulan Ramadhan, para pengajar dan juru dakwah digembleng sebulan penuh dengan menyelesaikan pelajaran nahwiyyah yang dia susun ketika pertama kali sekolah di Pajagalan Bandung. Makalah-makalah dari penataran ini dia kumpulkan dan kemudian menjadi beberapa buku yang kini bereder hingga ke berbagai daerah di Indonesia seperti Irianjaya dan Aceh.

Salah satu karyanya yang monumental adalah Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah. Buku ini dirampungkan sebanyak tiga jilid pada bulan Ramadhan 1408 H serta mendapat apresiasi dari Dr. Ahmad Amr Hasyim salah seorang dosen Hadits di Universitas al Azhar Kairo Mesir yang memberikan kata sambutan dalam pembukaannya.

Beberapa karya tulisan buku dan kitab KH. Aceng Zakaria diantaranya :
Buku Aqidah
Ilmu tauhid jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Pokok-pokok Ilmu Tauhid
Syahadat Bai`at dan Jamaah Islamiyyah

Buku Fiqh
Hidayah Fi Masail Fiqhiyyah Mutaa’ridhah
Haramkah Isbal dan Wajibkah Janggut
Do`a-Do`a Shalat, Versi Indonesia dan Sunda
Do`a-Do`a Sehari-hari
Do’a Haji dan Umrah
Hadyu Rosul
Tarbiyah An-Nisa (Bahasa Arab)
Tarbiyah Nisa (Bahasa Indonesia)

Buku Bahasa
Al-Muyasar fi Ilmu Nahwi Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Al-Kafi (buku Tashrif) Jilid I, II dan III (Bahasa Arab)
Tashrif 24 Jam
Nahwu terjemah
Kamus Tiga Bahasa (Indonesia-Arab-Inggris )
Ilmu Mantiq (Bahasa Arab)
Jadul Muta`alim (Bahasa Arab)
Adi`yyah, (Bahasa Arab)

Bidang tafsir
Al-Bayan fi Ulumul Qu`ran (Bahasa Arab)
Ilmu tajwid (Bahasa Arab)
Tafsir Al Fatihah (bahasa Indonesia)

Buku Hadits
Ilmu Musthalah hadits (Bahasa Arab)
Etika Hidup Seorang Muslim
Kitabul Adab, Jilid I dan II, (Bahasa Arab)

Catatan lain mengenai KH. Aceng Zakaria:
KH. ACENG ZAKARIA: DARI DAERAH DENGAN SEGUDANG KARYA ILMIAH
Oleh: Yudi Wahyudin
Jauh dari hiruk-pikuk dunia industri, berada di bawah kaki Gunung Guntur tepatnya di Kudangsari Rancabango, terdapat sebuah pesantren yang tertata rapi, dipenuhi oleh para santri yang sedang khusyu belajar ilmu turâts di tengah struktur bangunan dan fasilitas teknologi yang memadai. Konsep pesantren modern yang dipadukan dengan kharismatika ulama ini kiranya merupakan manifestasi dari konsep fikir dan dzikir yang langsung dinakhodai oleh seorang Ulama Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango ini sejak tahun 2000 yang lalu.

Adalah KH. Aceng Zakaria, seorang ulama kharismatik dengan produktivitas tinggi. Ia lahir di Sukarasa, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Selain lahir dari lingkungan pesantren, Ulama yang lahir pada 11 Oktober 1948 ini juga memiliki ayah seorang ajengan. “Keluarga besar kami berasal dari lingkungan pesantren. Bahkan banyak para ajengan yang lahir dari garis nasab kakek saya. Salah satu di antaranya adalah Ajengan Yusuf Taujiri, Mu’allim Anshor, dan lain sebagainya”, tuturnya.

Dengan ketekunan yang luar biasa, sejak sekolah dasar di Babakan Loa hingga tahun 1961, Wanaraja, Kabupaten Garut, ia sudah khatam mempelajari lebih dari lima kitab kuning, seperti Safinah, Tijan, Jurumiyyah, Sanusi, dan lain sebagainya. Dengan bekal ini, ia dipercayai untuk langsung mengajar di Madrasah Diniyah Sukarasa, tiga tahun setelah selesai sekolah dasar. “Murid pertama saya adalah seorang anak SMP, namanya Bapak Didi Al-Ikhlas, Garut”, kenangnya.

Meski nilai matematikanya sepuluh, ayahnya H. Ahmad Kurhi, tidak mendorongnya untuk meneruskan sekolah di lembaga formal (baca: SMP). “Selain bapak tidak menyuruh untuk sekolah, saya sendiri tidak tertarik untuk melanjutkan sekolah di lembaga formal”, tutur suami Hj. Euis Nurhayati ini. Otomatis aktvitas ia terkonsentrasi pada mengkaji turats dan belajar bertani. Setiap hari ia habiskan waktunya untuk belajar, baik di waktu pagi maupun sore. Pada masa-masa ini, ia sudah mulai menulis tema-tema ulum al-hadits, uhsul fiqih, nahwu dan sharaf. “Sambil belajar dan bertabligh, saya mulai belajar menuliskan apa yang selama ini saya pelajari. Bahkan manuskripnya masih ada tersimpan rapi”, kenang ayah yang memiliki 8 anak ini.

Belajar ke Bandung untuk Menerima Tantangan Dakwah
Dengan tantangan yang semakin kompleks ini, kemudian ia berfikir untuk menambah ilmu, kemampuan dan sekaligus pengalaman. Dengan dorongan Sang Kakek, ia pun memberanikan diri untuk menimba ilmu ke Bandung, tepatnya di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan. Ia diterima di Tsanawiyyah Tingkat IV dan menyelesaikan studinya sampai akhir di Tingkat Mu’allimin pada 1969. Seusai nyantri, ia diminta untuk mengajar di Pondok Pesantren Persis Pajagalan oleh Pimpinan Pesantren, Al-Ustadz E. Abdurrahman. Selama empat tahun, ia kembali mengasah kemampuannya dengan belajar Ilmu Tafsir langsung dari tokoh besar Persatuan Islam saat itu.

Namun tetap saja, kacang tidak boleh lupa pada kulitnya, dengan permintaan Pimpinan Daerah Persatuan Islam Kabupaten Garut, H. Komarudin AS, ia harus kembali ke daerah asalnya. Pada awalnya Al-Ustadz Abdurrahman menolak permintaan dari Garut, karena takut ilmu yang ia miliki belum begitu diperlukan untuk di tingkat daerah. Namun karena melihat kesungguhan Ibu Aminah yang langsung datang ke Pajagalan, akhirnya Al-Ustadz Abdurrahman merelakannya.

Kontan saja, sepulangnya di Kabupaten Garut pada 1975, potensi yang dimiliki ia dioptimalkan. Ia kembali mengkaji turats dengan beberapa kader dari berbagai daerah di Pesantren Persis 19 Bentar. Selain ilmu nawhu, ia pun mengkaji berbagai persoalan fikih. Dari hasil kajiannya ini, lahirlah beberapa karya monumental, seperti Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahw dan Al-Hidayah.

Jika Jam’iyyah Persatuan Islam Garut bertugas sebagai ‘divisi’ rekruitmen kader, maka Ust. Aceng Zakaria-lah yang menjadi pembina kadernya. Sehingga dalam menjalankan tugasnya ini, tidak jarang ia harus berdebat dengan berbagai kalangan tentang persoalan-persoalan fikih. Tercatat beberapa kali dilakukan perdebatan dengan ormas-ormas Islam yang ada di Kabupaten Garut saat itu, seperti Muhammadiyyah dan Nahdhatul ‘Ulama.

Saat ini, selain menjadi Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 99 Rancabango, ia menjadi salah satu anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam, Pengurus dan Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKSPPI) Kabupaten Garut.

Aktivitas dakwah yang ia geluti sangat luas. Selain aktif berdakwah di lingkungan Persatuan Islam, ia tercatat sebagai instruktur tetap Kursus Kesejahteraan Rohani (KKR) Pengajian Wanita Salman ITB Bandung, instruktur tetap pada Training Haji di berbagai instansi, penceramah rutin di Yayasan Madani Geologi ITB Bandung, pengisi rutin kuliah subuh di berbagai radio dan acara Cahaya Kalbu di TVRI Jabar-Banten, serta seabreg aktivitas di tempat lainnya.

Ia pun pernah diundang untuk mengisi Diskusi Keindonesiaan dengan tema Masa Depan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Cabang Zagaziq Mesir pada 21 September 2001, menjadi narasumber dalam acara seminar Pelatihan Metodologi Pemikiran Hukum Islam yang dilaksanakan oleh MUI Jawa Barat pada 31 Agustus 2001, dan menjadi pengisi pada acara Semiloka Nasional dengan tema Menyongsong Lahirnya KUHP Harapan Umat di Unisba.

Kunci Ilmu: Belajar, Mengajar, Diskusi, dan Menulis
Ketika ditanya mengenai kunci budaya ilmu, ia menjawab, “Kuncinya keseimbangan antara belajar, mengajar, diskusi, dan menulis”, tutur ulama yang sekarang menjabat sebagai Ketua Bidang Garapan Pendidikan Pimpinan Pusat Persatuan Islam ini.

Dari prinsip yang dilaksanakan secara konsisten ini, tidak aneh jika telah lahir lebih dari 50 judul. Buku pertama yang ia tulis adalah ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab) dengan sistem Jurumiyyah, kemudian mustholah al-hadits (definisi dan konsep dasar ilmu hadits), serta ushul fikih. Namun ketiga tulisan awal ini belum sempat diterbitkan.

Diantara buku yang ia tulis, magnum opusnya adalah Al-Muyassar Fi ‘Ilm Al-Nahwi. Buku tersebut sudah digunakan hampir di seluruh Indonesia, sudah mengalami tiga puluh kali cetak, dan lebih dari tiga juta eksemplar. “Bahkan buku ini digunakan juga sebagai bahan ajar Ilmu Nahwu praktis di Malaysia”, tutur Ketua STAI Persis Garut ini. Al-Muyassar ini merupakan rangkuman ilmu nahwu yang mengadaptasi metode praktis sehingga mudah difahami para pemula namun tidak enteng untuk pelajar tingkat lanjut. “Al-Muyassar adalah hasil ramuan dari berbagai macam metode ilmu nahwu, baik dari kitab klasik, bahan ajar di Pajagalan Bandung, atau hasil pengalaman privat di berbagai tempat”, jelasnya.

Selain Al-Muyassar, buku fenomenal lain karangan ia adalah Al-Hidayah. Buku ini berisi tentang pembahasan perbedaan-perbedaan pendapat dalam fikih beserta pemecahannya. Sebagaimana tradisi ulama penulis di lingkungan Persis, buku ini membahas persoalan hukum dengan jelas dan tidak bertele-tele. Bahkan saat ini, para pemerhati hukum pemula bisa membacanya karena sudah disediakan dalam bahasa Indonesia dalam 3 jilid.

Buku-buku lain yang telah diterbitkan diantaranya adalah: Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Sholat, Etika Hidup Seorang Muslim, Tarbiyyah Al-Nisâ, Materi Dakwah, Doa-doa Shalat, Mengungkap Makna Syahadat, Bai’at, dan Berjama’ah, Belajar Nahwu Praktis 40 Jam, Belajar Tashrif Sistem 20 Jam, Kamus Tiga Bahasa (Arab-Indonesia-Inggris), Al-Kâfi fi Al-Ilm Al-Sharfi, Kitab Al-Tauhid (3 jilid), Ilm Al-Mantiq, Al-Bayân Fi ‘Ulûm Al-Quran, Haramkah Isbal dan Wajibkah Jenggot?, Sakitku Ibadahku, Jabatanku Ibadahku, serta buku-buku lain yang diterbitkan secara terbatas di lingkungan pesantren.

Selain menulis buku, ia pun menjadi kolumnis di berbagai media baik media internal Persatuan Islam seperti Risalah atau media lainnya. Saat ini lebih dari 60 judul artikel yang telah diterbitkan. Tema-tema yang ditulis membahas hampir seluruh pokok kehidupan manusia, seperti aqidah, adab, masâil fikih (permasalahan fikih), dakwah, syiyâsah, kalam, dan iqthishadiyyah (ekonomi). Keluasan tema yang ditulisnya ini menggambarkan bahwa KH. Aceng Zakaria adalah seorang ulama kharismatik yang sangat produktif dengan wawasan ilmu yang sangat luas.

Istri: Hj. Euis Nurhayati
Anak:
1. Evi Nurhasanah
2. Yanti Nurlaeli, S.Pd
3. Luthfi Lukman Hakim, Lc.
4. Yudi Wildan Rosid, Lc.
5. Rifqi Aulia Rahman
6. Husni Muttakin
7. Zaki Shiddiqi
8. Rahmi Rasyidah

Pendidikan
1. SD (1961) di Babakan Loa Wanaraja Garut
2. Tsanawiyyah (1969) di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan
3. Mu’allimin (1969) di Pesantren Persis No. 1-2 Pajagalan

Aktivitas
1. Pimpinan Pondok Pesantren Persis 99 Rancabango
2. Ketua Bidang Garapan Pendidikan Pimpinan Pusat Persatuan Islam
3. Anggota Dewan Hisbah Pimpinan Pusat Persatuan Islam
4. Ketua BKSPPI Kabupaten Garut
5. Penasihat ICMI Kabupaten Garut
6. Ketua STAI PERSIS GARUT.

Diambil dari berbagai sumber. Rangkaian biografi KH. Aceng Zakaria dengan segudang karya tanpa gelar akademis pendidikan ini mudah-mudahan menjadi ibroh untuk kita diambil teladan positif khususnya dalam mempelajari literatur dan pendalaman agama Islam.
Demikian riwayat KH. Aceng Zakaria tokoh ketua Umum Pimpinan Pusat Persis Periode 2015 hingga 2020. Semoga bermanfaat.

Selengkapnya

Shiddiq Amien; Intelektual Muda Berjiwa Ulama

Profil tokoh berikut bernama KH. Drs. Shiddiq Amien, MBA (Alm) merupakan Intelektual Muda Berjiwa Ulama secara jelas disampaikan Oleh : Abu Alifa Shihab pada salah satu media sosial, dan akan dituliskan kembali pada situs blog Persis berikut ini :

Sosok ulama intelektual yang mampu memberikan pencerahan pemikiran dan gerakan dakwah khususnya melalui dan dilingkungan jamiyyah Persatuan Islam. Harus diakui Persis dibawah kepemimpinannya mengalami sebuah penyegaran pemikiran konsep dan program yang disesuaikan dengan keadaan yang dibutuhkan. Ulama asal Kota Tasikmalaya yang gemar membaca ini, merupakan sosok yang kehadirannya sangat dinantikan dan dibutuhkan oleh umat. Gaya penyampaian yang komunikatif dan argumentative, disertai gaya dakwah yang memikat membuat orang tidak mau beranjak untuk tetap menyimak pesan yang disampaikannya. Mulai dari masyarakat menengah kebawah, sampai menengah keatas. Dari mulai petani sampai ketingkat akademisi bahkan ketingkat elit (pejabat). KH.Shiddiq Amien mewarisi pemikiran intelektual dan keulamaan, sekaligus akan memberikan kesan istimewa mengenai kepribadian dan pematangan intelektual dan sangat disegani dilingkungan jamaah dan jamiyyah Persis. Shiddiq Amin merupakan figur ulama langka dijaman sekarang. Beliau seorang ulama yang serius dalam prinsip tapi cukup toleran dengan pemahaman lain.

KH.Shiddiq Amien adalah seorang ulama intelektual dan intelektual ulama ternama dalam jajaran jamiyyah Persatuan Islam (Persis) khususnya. Sebagai ulama beliau mampu membawa jamiyah Persis ke level mengagumkan. Sebagai seorang intelektual muda, beliau mampu menyatukan tradisi keulamaan dan keintelektualan secara sekaligus.

KH.Shiddiq Amien, yang nama aslinya Shiddiq Aminullah lahir di Tasikmalaya, tepatnya di kampung Benda Kecamatan Cipedes, tanggal 13 Juni 1955, dan meninggal dunia pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009, di Rumah Sakit Al-Islam, Bandung. Ayahnya bernama KH.Ustman Aminullah[1] dan ibunya bernama Hj.E.Hamidah. Ayah beliau adalah salah seorang murid A.Hassan guru utama Persis, disamping itu KH. Utsman Aminullah merupakan pendiri dari Pesantren Persi 67 Benda. Tidak heran jika ketekunan untuk mempelajari agama Islam mengalir kepada anaknya.[2]Sewaktu kecil Shiddiq Amien sebagai layaknya seorang anak, ia senang bermain dengan anak seusianya. Beliau sering ikut menghadiri pengajian bersama ayahnya. Bahkan Ibunya menuturkan bahwa Shiddiq Amien (yang masa remajanya suka main gitar ini) senantiasa ingin ikut jika ayahnya mengisi pengajian. Bahkan suka menangis apabila ia tidak diajaknya.

Menginjak remaja, Shiddiq Amien pandai bergaul dengan remaja seusianya. Bermain gitar diantara yang ia lakukan bersama teman sebayanya. Disamping sangat menyayangi adik-adiknya, Shiddiq Amien remaja juga suka bercanda, dan terkadang “usil” sama adik-adiknya. Bahkan pernah suatu ketika saat melihat adiknya sedang shalat, ia bermain gitar dan bernyanyi yang isinya berupa candaan, sampai adiknya yang sedang shalat tertawa dan membatalkan shalatnya. Itulah Shiddiq Amien diusia remaja (14 tahun).[3]Jenjang pendidikan formal Shiddiq Amien diawali dengan memasuki SDN Benda Nagarasari Tasikmalaya, kemudian masuk SMPN 3 Tasikmalaya dan SMA Negeri 1 Tasikmalaya. Selesai menamatkan pendidikannya di SMA (1974), beliau melanjutkan pendidikan formalnya di ABA (seakarang STBA) yang waktu kuliahnya sore hari. Maka pada pagi harinya Shiddiq Amien belajar di pesantren Persis 1 Pajagalan pada tingkat Mu’allimien yang di pimpin (saat itu) oleh KH.Endang Abdurrahman. Dilihat dari sisi pendidikan pesantren beliau terbilang cukup mengagumkan, mengingat tanpa memasuki jenjang Tsanawiyah bisa langsung masuk ke Tingkat Mu’allimien. Saat itu Shiddiq Amien hanya dititipkan oleh sang ayah kepada KHE.Abdurrahman.[4] Pendidikan ilmu agamanya lebih banyak diasuh oleh sang ayah, baik itu ilmu alat seperti balaghah, nahwiyah, sharaf dan lain-lain, atau-pun dalam membaca kitab kuning. Sekalipun beliau tidak pernah mengeyam pendidikan tingkat Tsanawiyah secara formal di Persis, namun beliau mampu menyusul ketertinggalan itu bahkan menjadi murid kepercayaan ustadz Abdurrahman. Tentu saja pendidikan agama yang senantiasa beliau terima dari ayahnya menjadi modal. Sebab hampir tiap malam beliau diajari oleh ayahnya. Seperti dituturkan mantan santrinya, bahwa ia sering mendengar beliau membaca hadits atau kitab yang diajarkan oleh ayahnya. Bahkan menurut penuturan ibunya Hj.E.Hamidah bahwa sebelum jang Shiddiq (panggilan keyasangan dari ibu) pergi ke Bandung, selama kurang lebih 2 bulan beliau tiap habis shalat shubuh oleh ayahnya diasah mengenai ilmu alat seperti nahwiyah, balaghah, mantiq dan sebagaianya. Maka tidak heran jika beliau bisa langsung masuk ke jenjang Mu’allimien. Bahkan Shiddiq Amien banyak mendapat kepercayaan dari gurunya Ustadz Abdurrahman. Meskipun hanya mengenyam pendidikan selama dua tahun di Pesantren (Mu’allimien) namun pengetahuan yang dimilikinya tentang agama Islam cukup luas dan mendalam. Hal ini disebabkan beliau selalu rajin dan ulet dalam mempelajari agama Allah. Bukan hanya melalui pendidikan Mu’allimien, namun juga melalui pengajian-pengajian yang selalu dihadirinya, selain itu dengan penguasaan dua bahasa asing menyebabkan mampu membuka berbagai disiplin ilmu. Dan pada tahun 1979 beliau memperoleh gelar S1-nya di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA), sedangkan gelar MBA diraihnya lewat JIMS.

Suatu hal yang patut mendapat sorotan dan menarik jika ditelusuri ikhwal pendidikannya yang menjadi sosok ulama kharismatik. Kesan yang akan muncul dan terbersit, bahwa pendidikan yang dijalaninya agak berbeda dengan para Kyai pada umumnya. Bahkan mungkin berbeda dengan jalur pendidikan yang biasa dijalani para putra pimpinan pesantren. Peta perjalanan pendidikan yang dijalani Shiddiq Amien sangat unik dan mengesankan. Jika ditinjau dalam perspektif yang lebih terang, hal ini menunjukkan betapa visionernya Shiddiq Amien sejak masih muda.

Shiddiq Amien mampu untuk terbang melampaui paradigma pendidikan pesantren yang berlangsung selama berpuluh tahun. Beliau kemudian menuruti minat dan bakatnya dalam hal pendidikan, meskipun berbeda dengan tradisis pesantren. Namun, terbukti akhirnya memberikan manfaat yang besar dikemudian hari. Jenjang pendidikannya sebagai sosok Kyai dengan wawasan yang luas.[5] Hal ini bisa kita bayangkan bahwa Shiddiq Amien semasa masih belajar di SMA 1 Tasikmalaya, sudah diberi tugas oleh ayahnya untuk mengajar di pesantren Persis 67. Mata pelajaran yang ia sampaikan adalah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dalam kapasitasnya sebagai seorang guru, Shiddiq Amien dalam menyampaikan pelajarannya sangat komunikatif dan gampang untuk dimengerti. Tidak jarang diantara para santri merasa rugi dan kehilangan jika suatu saat beliau tidak bisa mengajar. Kehadirannya sangat dinantikan oleh para santri.
[1] KH.Ustman Aminullah merupakan murid Ahmad Hassan angkatan pertama ketika Persis pertama kali mendirikan pesantren. Beliau merupakan tokoh pertama yang menyebarkan faham al-quran dan as-Sunnah melalui jamiyyah Persis di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya. (Wawancara Pribadi dengan Pihak keluarga (Hj.E.Hamidah), 20 Juni 2011)
[2] Hj.E.Hamidah, Ibunda Shiddiq Amien, Wawancara Pribadi, Tasikmalaya, Juni 2011
[3] Dra. Imas Masaroh Amien, Bagian Kurikulum dan Guru Pesantren Persis 67 Benda, Wawancara Pribadi, 20 Juni 2011
[4] KHE.Abdurrahman adalah Ketua Umum PP.Persis yang dilakukan melalui referendum dan selanjutnya melalui Muakhat (pengganti Muktamar). Periode kepemimpinan KHE.Abdurrahman ini merupakan periode kepemimpinan Persis ketiga setelah berakhirnya kepemimpinan KH.Mohammad Isa Anshary. Periode ini juga merupakan regenerasi kepemimpinan dari generasi pertama Persis ke eksponen Pemuda Persis, yang merupakan organisasi otonom Persis, tempat pembentukan kader-kader Persis. Lihat Dadan Wildan, Yang Da’i Yang Politikus : Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis (Bandung : Rosda, 1997, cet.Pertama, h.126-127)
[5] Ian Suherlan, Efri Aditia, Ustadz Shiddiq Amien Ulama Teladan Umat, Jakarta, Indonesia Press 2010, cet.1 hal
..............................................................................................................................................

sumber untuk profil di bawah diambil dari wikipedia
KH.Shiddiq Amien adalah seorang intelektual dan ulama ternama dalam jajaran jamiyyah Persatuan Islam[1]. Sebagai ulama beliau mampu membawa jamiyah Persis ke level mengagumkan. Dan sebagai seorang intelektual muda, beliau mampu menyatukan tradisi keulamaan dan keintelektualan secara sinergis, dengan harmonisasi yang cukup terintegritas dalam satu wawasan berfikir yang matang.

Shiddiq Amien adalah pelanjut tokoh Persis yang mampu melanjutkan peralihan dari tradisi lama menjadi tradisi baru, dari wajah Persis yang eksklusif dan tertutup menjadi terbuka, toleran, dan adaptif terhadap segala permasalahan. Beliau mampu menjadi jembatan pemahaman antara kalangan santri dan kaum akademis[2]

Masa Kanak - kanak
KH.Shiddiq Amien,[3] nama aslinya Shiddiq Aminullah lahir di Tasikmalaya, tepatnya di kampung Benda Kecamatan Cipedes, tanggal 13 Juni 1955, dan meninggal dunia pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009, di Rumah Sakit Al-Islam, Bandung.[4] Ayahnya bernama KH.Ustman Aminullah dan ibunya bernama Hj.E.Hamidah. Ayah beliau adalah salah seorang murid A.Hassan atau Ahmad Hassan[5] guru utama Persis, disamping itu KH. Utsman Aminullah merupakan pendiri dari Pesantren Persi 67 Benda. Tidak heran jika ketekunan untuk mempelajari agama Islam mengalir kepada anaknya.

Masa kanak - kanak, Shiddiq amien sebagai mana layak nya seorang anak, banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dengan anak seusianya. tetapi Beliau tidak pernah melupakan kewajiban utamanya untuk belajar Agama, bahkan sering ikut menghadiri pengajian bersama ayahnya. tidak jarang Shiddiq Amien (yang masa remajanya suka main gitar ini) selalu ingin ikut jika ayahnya mengisi pengajian.

Pendidikan
Jenjang pendidikan formal Shiddiq Amien diawali dengan memasuki SDN Benda Nagarasari Tasikmalaya, kemudian masuk SMPN 3 Tasikmalaya dan SMA Negeri 1 Tasikmalaya. Selesai menamatkan pendidikannya di SMA (1974), beliau melanjutkan pendidikan formalnya di ABA (seakarang STBA) yang waktu kuliahnya sore hari. Maka pada pagi harinya Shiddiq Amien belajar di pesantren Persis 1 Pajagalan pada tingkat Mu’allimien yang di pimpin (saat itu) oleh KH.Endang Abdurrahman. Dilihat dari sisi pendidikan pesantren beliau terbilang cukup mengagumkan, mengingat tanpa memasuki jenjang Tsanawiyah bisa langsung masuk ke Tingkat Mu’allimien. Saat itu Shiddiq Amien hanya dititipkan oleh sang ayah kepada KHE.Abdurrahman.[4] Pendidikan ilmu agamanya lebih banyak diasuh oleh sang ayah, baik itu ilmu alat seperti balaghah, nahwiyah, sharaf dan lain-lain, atau-pun dalam membaca kitab kuning. Sekalipun beliau tidak pernah mengeyam pendidikan tingkat Tsanawiyah secara formal di Persis, namun beliau mampu menyusul ketertinggalan itu bahkan menjadi murid kepercayaan ustadz Abdurrahman. Tentu saja pendidikan agama yang senantiasa beliau terima dari ayahnya menjadi modal. Sebab hampir tiap malam beliau diajari oleh ayahnya. Seperti dituturkan mantan santrinya, bahwa ia sering mendengar beliau membaca hadits atau kitab yang diajarkan oleh ayahnya. Bahkan menurut penuturan ibunya Hj.E.Hamidah bahwa sebelum jang Shiddiq (panggilan keyasangan dari ibu) pergi ke Bandung, selama kurang lebih 2 bulan beliau tiap habis shalat shubuh oleh ayahnya diasah mengenai ilmu alat seperti nahwiyah, balaghah, mantiq dan sebagaianya. Maka tidak heran jika beliau bisa langsung masuk ke jenjang Mu’allimien. Bahkan Shiddiq Amien banyak mendapat kepercayaan dari gurunya Ustadz Abdurrahman. Meskipun hanya mengenyam pendidikan selama dua tahun di Pesantren (Mu’allimien) namun pengetahuan yang dimilikinya tentang agama Islam cukup luas dan mendalam. Hal ini disebabkan beliau selalu rajin dan ulet dalam mempelajari agama Allah. Bukan hanya melalui pendidikan Mu’allimien, namun juga melalui pengajian-pengajian yang selalu dihadirinya, selain itu dengan penguasaan dua bahasa asing menyebabkan mampu membuka berbagai disiplin ilmu. Dan pada tahun 1979 beliau memperoleh gelar S1-nya di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA), sedangkan gelar MBA diraihnya lewat JIMS.
SDN Benda – Jl. Cisalak No. ….. Tsm (thn. 1968)
Diniyyah Ula Pesantren Persis Benda – Tsm (thn. 1968)
SMPN-3 Jl. Merdeka No. 17 – Tsm (thn. 1972)
SMAN-1 – jl. RSU No. 28 – Tsm (thn. 1974)
Mu’allimien ( MA) – jl. Pajagalan no. 14 – Bdg (thn 1976)
ABA Pasundan – Tasikmalaya (thn. 1979)
STBA Yapari – jl. Cihampelas No. 194 – Bdg (thn. 1988)
DLI – Jakarta – jl. Gatot Subroto Kav.56 – Jakarta (thn. 1999)

Riwayat Dalam Kehidupan Organisasi
Ketua Bidang Kepustakaan OSIS SMPN-3 Tasikmalaya (thn. 1971)
Ketua bidang Kerohanian OSIS SMAN-1 Tasikmalaya (thn. 1974)
Ketua Umum RG Pesantren Persis Pajagalan Bandung (thn. 1976)
Anggota Bidang Rohani Senat Mhsw STBA Yapari Bandung (thn. 1987)
Anggota Pemuda Persis Cab. Tasikmalaya (thn. 1977)
Sekretaris PC Persis Cipedes – Tsm (1977-1984)
Ketua Pimpinan Daerah Persis Tasikmalaya (1984 –1990)
Ketua Bid. Jamiyyah PP Persis (1990-1997)
Ketua Umum PP Persis (1997 – 2009)[6]
Angota Dewan Penasihat MUI Pusat (1998 – 2009)
Anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan (1999 – 2004)
Riwayat Pekerjaan
Guru / Pimpinan Pesantren Persis Benda (1997)
Dosen STAIPI Persis – jl. Ciganitri – Bandung ( 1995 – 1997)
Dosen Prog. Bidan Depkes – Tsm (1994 – 1997)
Dosen AKPER Depkes Tsm (1995 – 1996)
Komisaris Utama BPRS Amanah R Bandung (1997 – ‏2000)
Komisaris Utama PT Karya Imtak – Bandung (1997)
Anggota Dewan Syariah BPRS Al-Wadiah Tsm (1998 – 2000)
Anggota Dewan Pengawas Syari’ah Bank BTPn (2008)

Ulama Intelektual
Merupakan sosok ulama intelektual[7] yang mampu memberikan pencerahan pemikiran dan gerakan dakwah khususnya melalui dan dilingkungan jamiyyah Persatuan Islam. Harus diakui Persis dibawah kepemimpinannya mengalami sebuah penyegaran pemikiran konsep dan program yang disesuaikan dengan keadaan yang dibutuhkan. Ulama asal Kota Tasikmalaya yang gemar membaca ini, merupakan sosok yang kehadirannya sangat dinantikan dan dibutuhkan oleh umat. Gaya penyampaian yang komunikatif dan argumentative, disertai gaya dakwah yang memikat membuat orang tidak mau beranjak untuk tetap menyimak pesan yang disampaikannya. Mulai dari masyarakat menengah kebawah, sampai menengah keatas. Dari mulai petani sampai ketingkat akademisi bahkan ketingkat elit (pejabat). KH.Shiddiq Amien mewarisi pemikiran intelektual dan keulamaan, sekaligus akan memberikan kesan istimewa mengenai kepribadian dan pematangan intelektual dan sangat disegani dilingkungan jamaah dan jamiyyah Persis. Shiddiq Amin merupakan figur ulama langka dijaman sekarang. Beliau seorang ulama yang serius dalam prinsip tapi cukup toleran dengan pemahaman lain.
Guru dan Ulama

Suatu hal yang patut mendapat sorotan dan menarik jika ditelusuri ikhwal pendidikannya yang menjadi sosok ulama kharismatik. Kesan yang akan muncul dan terbersit, bahwa pendidikan yang dijalaninya agak berbeda dengan para Kyai pada umumnya. Bahkan mungkin berbeda dengan jalur pendidikan yang biasa dijalani para putra pimpinan pesantren. Peta perjalanan pendidikan yang dijalani Shiddiq Amien sangat unik dan mengesankan. Jika ditinjau dalam perspektif yang lebih terang, hal ini menunjukkan betapa visionernya Shiddiq Amien sejak masih muda.

Shiddiq Amien mampu untuk terbang melampaui paradigma pendidikan pesantren yang berlangsung selama berpuluh tahun. Beliau kemudian menuruti minat dan bakatnya dalam hal pendidikan, meskipun berbeda dengan tradisis pesantren. Namun, terbukti akhirnya memberikan manfaat yang besar dikemudian hari. Jenjang pendidikannya sebagai sosok Kyai dengan wawasan yang luas. Hal ini bisa kita bayangkan bahwa Shiddiq Amien semasa masih belajar di SMA 1 Tasikmalaya, sudah diberi tugas oleh ayahnya untuk mengajar di pesantren Persis 67.[8] Mata pelajaran yang ia sampaikan adalah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Dalam kapasitasnya sebagai seorang guru, Shiddiq Amien dalam menyampaikan pelajarannya sangat komunikatif dan gampang untuk dimengerti. Tidak jarang diantara para santri merasa rugi dan kehilangan jika suatu saat beliau tidak bisa mengajar. Kehadirannya sangat dinantikan oleh para santri.
Orang Yang Berpengaruh

Dalam Pribadinya mengalir Darah Ulama, dan dari kecil hingga dewasa Shiddiq banyak di pengaruhi fikiran fikiran dan kecerdasan orang - orang hebat disekelilingnya, diantarnya ;
[1] KH.Ustman Aminullah ayahanda Shiddiq, merupakan murid Ahmad Hassan angkatan pertama ketika Persis pertama kali mendirikan pesantren. Beliau merupakan tokoh pertama yang menyebarkan faham al-quran dan as-Sunnah melalui jamiyyah Persis di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya.
[2] Hj.E.Hamidah, Ibunda Shiddiq Amien, yang membentuk Jiwa dan Pemikiran Shiddiq lebih dewasa, jujur, apa adanya, dan disiplin.
[3] Dra. Imas Masaroh Amien, Bagian Kurikulum dan Guru Pesantren Persis 67 Benda.
[4] KHE.Abdurrahman adalah Ketua Umum PP.Persis yang dilakukan melalui referendum dan selanjutnya melalui Muakhat (pengganti Muktamar). Periode kepemimpinan KHE.Abdurrahman ini merupakan periode kepemimpinan Persis ketiga setelah berakhirnya kepemimpinan KH.Mohammad Isa Anshary. Periode ini juga merupakan regenerasi kepemimpinan dari generasi pertama Persis ke eksponen Pemuda Persis, yang merupakan organisasi otonom Persis, tempat pembentukan kader-kader Persis.
Karya Tulis
Selama karier nya sebagai ulama, KH. Shiddiq Amien telah menulis beberapa buku islam, diantaranya :
Presiden Wanita dalam pandangan Islam,[9] Penerbit Persis 2001, 48 halaman
Islam : dari Aqidah hingga Peradaan[10] Penerbit, Suluh, 2010
Keluarga Berencana dalam pandangan Islam,[11] Penerbit Persis Pers 2001

Selengkapnya

Kesan Shiddiq Aminullah terhadap Mohammad Natsir

Berikut ini penuturan dan kesan KH. Shiddiq Amien (Allohu Yarham) terhadap seorang tokoh bernama Mohammad Natsir (Allohu Yarham) :
Ketika kecil, ayah saya bercerita sekilas tentang seorang tokoh. Tokoh tersebut bersama-sama dengan A. Hassan merupakan sosok-sosok yang amat lekat dengan Persatuan Islam. Sedikit saja memang apa yang ayah saya ceritakan—justru lebih banyak bercerita tentang A. Hassan—tentang tokoh tersebut. Itulah kali pertama, sepanjang ingatan saya, perkenalan saya bermula. Sempat ayah saya merasakan didikan tokoh tersebut, ketika nyantri di Bandung. Tanpa sengaja, cerita ayah saya ketika itu tentang tokoh tersebut, bersamaan dengan kedatangannya ke Tasikmalaya. Belasan tahun kemudian, kelak saya pun bertemu langsung dengan tokoh tersebut. Bahkan hingga kini saya lekat berkecimpung dalam organisasi yang pernah beliau dirikan dan tumbuhkan. Ya, tokoh tersebut adalah Mohammad Natsir. Tokoh kelahiran Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat, pada 17 Juli 1908.
Akhir dasawarsa 1980-an, saya bertatap wajah dan bertegur sapa langsung dengan beliau. Tujuan kedatangan saya ke Jakarta, tepatnya ke kantor Dewan Da’wah (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, red.), adalah mengajukan proposal bantuan pembangunan gedung. Memang hanya sebentar. Urusan proposal langsung itu pun anak buahnya tangani. Akan tetapim, proposal yang ditujukan untuk Rabithah (Rabithah ‘Alam Al Islami, red.) ketika masih berkantor di Diponegoro, justru tak kunjung datang jawaban. Hingga kunjungan kedua saya. Sayangnya, ketika beliau sedang sakit. Sempat saya ceritakan tentang kelanjutan proposal tersebut, meski bangunan sudah selesai. Singkat saja beliau menanggapi: “Ya alhamdulillah, dana belum turun, bangunan sudah jadi. ‘Kan yang mau masuk sorga, tidak hanya orang Arab!
Pertemuan ketiga dan terakhir, sedihnya terjadi ketika beliau telah wafat. Delapanpuluh lima tahun bukanlah sebentar usia. Suasana berkabung ketika itu begitu padat, bahkan saya sulit memasuki rumah duka. Inilah tokoh penyambung hati nurani umat. Tiga pertemuan tersebut terjadi karena saya sering diajak Latif Muchtar, Ketua Umum Persatuan Islam sebelum saya. Bukan kebetulan pula, karena saya adalah sekretaris beliau.
Jujur saya utarakan bahwa saya bukanlah seorang yang tepat bercerita tentang Mohammad Natsir. Latif Muchtar merupakan tokoh yang lebih tepat, karena beliau adalah seseorang murid langsung Pak Natsir, begitu Latif Muchtar—demikian pula orang-orang yang cukup lama berinteraksi akrab—biasa memanggil Mohammad Natsir. Latif Muchtar-lah dan generasi pertama binaan langsung yang Pak Natsir berikan kemudahan kuliah di Arab. Sulit sekali saya menguraikan gambaran utuh tentang keseharian Mohammad Natsir. Lebih-lebih, banyak hal rinci yang saya lupa. Sebab-sebab lain kekurangdekatan saya dengan Mohammad Natsir, selain karena usia, juga karena letak yang cukup jauh. Pak Natsir tinggal di Jakarta, sedangkan saya lebih sering berada tinggal di Tasikmalaya, lalu Bandung.
Bagi saya sulit sekali memisahkan antara Mohammad Natsir—dan juga A. Hassan—dengan Persatuan Islam. Pendidikan Islam (Pendis) merupakan garapan beliau yang cukup melengkapi kekurangan pendidikan Islam. Dia juga memberikan format atas Persatuan Islam. Dari organisasi yang horizontal menjadi organisasi yang mudah masyarakat luas kenal. Mungkin sama seperti orang muda lain, saya lebih mengenal beliau melalui tulisan yang beliau buat—kadang-kadang seraya menggunakan nama samaran—baik di Majalah Risalah dan media massa lainnya maupun kumpulan tulisan beliau semisal Capita Selecta dan tentu saja Fiqhud Da’wah. Bagi saya, atsar-atsar beliau pantas Persatuan Islam jadikan sebagai acuan.
Bagaimana tenang, teratur, dan kalemnya ceramah-ceramah yang beliau kemukakan. Akan tetapi tetap tajam, tidak hilang makna. Keberaniannya berpolemik dengan Soekarno tentang status dan peran agama (Islam). Walaupun pada usia yang masih muda. Narasi-narasi argumentasi yang dia kedepankan. Tidak hanya itu, beliau pun sanggup menuliskannya dalam bahasa Belanda. Tanpa merasa canggung ataupun rikuh, dia bicara, menulis, dan tentu saja berbuat. Sekali sempat beliau menulis surat kepada Paus—pemimpin tertinggi umat Katholik—tentang etika penyebaran agama. Tanpa hasutan, tanpa bujukan. Toleransi tetap beliau junjung tinggi.
Bagi beliau—persis seperti ucapan John F. Kennedy—janganlah memperhitungkan apa yang sudah kita berikan kepada bangsa, apalagi memperhitungkan apa yang bangsa berikan kepada kita. Sempat terpinggirkan. Akan tetapi beliau tetap memberikan perbuatan yang terbaik. Tanpa pamrih! Tanpa usaha beliau membendung arus federalisme sebagai konsekuensi logis dari Konferensi Meja Bundar, hingga berujung pada Mosi Integral. Sontak Negara Indonesia Serikat gagasan van Mook pun bubar. Begitu lekatnya beliau dengan Persatuan Islam, hingga seringkali apa yang beliau lakukan merupakan kebijakan organisasi, padahal tidak demikian. Akan tetapi tetap saja sebagian besar orang melihat itulah yang Persatuan Islam perbuat.
Apa yang langka, hingga nyaris hilang dari umat Islam, terutama pemimpinnya adalah keteladanan. Sebutan Natsir Muda bukanlah jaminan. Istiqamah. Sebutan Natsir Muda pernah disematkan kepada Nurcholis Madjid—entah siapa yang menyematkannya—ujungnya malah tidak istiqamah. Awalnya memang cukup cemerlang. Belakangan malah terkontaminasi ajaran liberal. Begitu banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi. Akan tetapi seberapa banyak orang yang teguh memegang agama. Selaraskan dengan perbuatan.
Seperti sama-sama kita tahu, Mohammad Natsir pernah menolak bantuan beasiswa pendidikan tinggi. Dia lebih memilih berkecimpung pada organisasi pergerakan nasional semisal Jong Islamieten Bond. Demikianlah, tanpa berani kita pungkiri, kapasitas keilmuan Mohammad Natsir memang lebih. Sebagian besar tokoh-tokoh asal Sumatra Barat, semisal Buya Hamka, memang tidak menempuh pendidikan tinggi. Akan tetapi, kualitasnya berani diadu.
Kiprah Mohammad Natsir dalam dua wadah: Persatuan Islam dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, kiranya usah diperdebatkan lagi perbedaan antarkeduanya. Oleh karena visi da’wah keduanya tetaplah sama. Kalaupun bila ada perbedaan keduanya, hal tersebut semata bentuk wadahnya. Persatuan Islam adalah organisasi sosial keagamaan, sedangkan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah yayasan. Bahkan susunan kepengurusan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia terdiri dari beberapa wakil organisasi sosial keagamaan. Semacam presidium, kiranya demikian.
Seksama memperhatikan jasa-jasa beliau kepada Indonesia, maka wajarlah gelar pahlawan nasional, Mohammad Natsir dapatkan. Tanpa mempermasalahkan siapa dan dari etnis mana yang mengusulkan. Meskipun jelas dia tak pernah merajuk. Apa yang jauh lebih penting baginya adalah sifat kepahlawanan, bukan lagi gelar. Tidak sedikit memang orang yang menyanggah bahkan melabrak pendapat Mohammad Natsir. Mereka yang hendak mendirikan Negara Islam dengan cara radikal, tentu menolak pandangan Mohammad Natsir. Akan tetapi, sejatinya bukankah setiap orang ada plus-minusnya? Itu hal manusiawi.
Satu hal lagi. Kesederhanaan! Itulah yang menghilang dari para pemimpin sekarang. Wibawa hanya muncul melalui kesederhanaan.

Selengkapnya

Pandangan Muhammad Natsir terhadap Pancasila



Muhammad Natsir merupakan tokoh Persatuan Islam Persis terkemuka yang menerima rumusan pancasila sebagai pedoman negara. Penerimaan tersebut tentu saja dengan syarat asas ketuhanan dijadikan sumber ruhani dan sumber moral dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Bagi Muhammad Natsir negara Islam adalah suatu cita-cita ideal yang tentunya harus diperjuangankan. Demikian diungkap Pepen Irfan Fauzan, S.S M. Hum tenaga ahli kementrian, dalam seminar politik Persis di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) Ciganitri Bandung (9-01).
Pepen menuturkan bahwa Muhammad Natsir memandang substansi pancasila secara positif. Indikasi ini terlihat ketika M. Natsir berkunjung ke Pakistan dan berpidato di depan The Pakistan Institute Of World Affairs pada tahun 1952.
Muhammad Natsir menyatakan “Pakistan adalah negara Islam. Hal itu pasti, baik oleh kenyataan penduduknya maupun oleh gerak-gerik haluan negaranya. Dan saya nyatakan Indonesia juga adalah negara Islam, oleh kenyataan bahwa Islam diakui sebagai agama dan anutan jiwa bangsa Indonesia, meskipun tidak disebutkan dalam konstitusi bahwa Islam itu adalah agama Negara. Indonesia tidak memisahkan Agama dari Negara. Dengan tegas Indonesia menyatakan percaya Kepada Tuhan Yang Maha Esa jadi tiang pertama pancasila.”
Pernyataan Muhammad Natsir ini disampaikan setahun setelah ia meletakan jabatannya sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia, sehingga tidak heran menurut Pepen jika pernyataan tersebut bersifat fositip. “Sebab, logikanya, bagaimana mungkin seorang ideolog Islam mau menjabat kepala pemerintah suatu negara yang dasarnya dianggap bertentangan dengan ideologi Islam. Maka saya bisa menyimpulkan dari pernyataan M. Natsir tersebut bahwa negara Pancasila pun sudah membayangan sebuah negara Islam,” kata Pepen yang juga dosen di STAIPI Garut ini.
Menurut Pepen dasar pemikiran Muhammad Natsir mengenai hubungan Islam dengan negara ini adalah penafsiran terhadap ayat “Dan kami tidak menjadikan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. 27: 56).
Dari ayat ini, Muhammad Natsir mengembangkan teorinya bahwa seorang Islam hidup diatas dunia ini dengan cita-cita kehidupan supaya menjadi hamba Allah dengan arti yang sepenuhnya.
Pandangan Muhammad Natsir yang cenderung moderat terhadap pancasila ini ditentang keras oleh tokoh Persis lainnya yaitu Isa Anshari. Isa Anshari memandang negara yang berpedoman pada pancasila bukanlah negara Islam. Dan Isa Anshari tidak mau berkompromi untuk masalah ini. Lihat  pandangan isa anshari tentang pancasila

Selengkapnya

Pandangan Isa Anshari tentang Pancasila




Bila Muhammad Natsir menilai pancasila terkesan positif, Isa Anshari sebagai tokoh Persis yang berhaluan keras terlihat radikal dalam menolak pancasila. Sampai-sampai beliau menegaskan bahwa Persatuan Islam / Persis termasuk kelompok Radikal revolusioner.
 Di buku Manifest Perjuangan Persatuan Islam beliau menegaskan “Kalaulah kita menjelajahi perkembangan aliran pikiran dalam masayarakat kaum muslimin - di Indonesia- kita melihat ada tiga aliran cara berpikir dalam memahamkan persoalan agama. Pertama, aliran konservatif-reaksionarisme, aliran beku dan jumud yang secara apriori menolak setiap faham dan keyakinan yang hendak merubah faham. Kedua, aliram moderat-liberalisme, mengetahui mana yang sunnah mana yang bid’ah, mengetahui kesesatan bid’ah, tetapi tidak aktif dan fositip memberantas bid’ah. Ketiga, aliran revolusioner-radikalisme, aliran yang hendak merubah masarakat ini sampai ke akar-akarnya. Persatuan Islam adalah penganut aliran yang ketiga ini.
 Irfan Fauzan, S.S M. Hum tenaga ahli kementrian, dalam seminar politik Persis di kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Persis (STAIPI) Ciganitri Bandung (sept-2001) menilai bahwa Isa Anshari sangat tegas dan radikal dalam menolak Pancasila sebagai dasar negara. Menurutnya secara tidak langsung pandangan Isa Anshari tersebut menyerang Buya Hamka dan M. Natsir. Bagi Isa Anshari pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang tidak istiqamah seperti yang ia nyatakan dalam tulisannya “Hanya Negara Islam Yang Kami Amanatkan Kepada Anggota Konstitusi”.
 Isa Anshari, lanjut Pepen menyebut banyak pihak yang mendakwakan diri mempertahankan Pancasila, akhirnya telah membuat Pancasila itu menjadi sejenis thagut (berhala) yang merobek dua kalimat syahadat dan memperkosa rangka tubuh agama Islam.
 Lebih jauh, tambah Pepen Isa Anshari menyebut bahwa Pancasila tidaklah sama dengan Islam. Demikian juga, hukum Islam tidak akan tegak di bawah Pancasila. Hal ini terlihat dalam tulisannya “Bukan Ideologi pancasila, bukan hukum pancasila, bukan negara pancasila yang wajib kita tegakkan, tapi ideologi Islam, hukum Islam, negara Islam...Hukum Islam harus tegak, Ideologi Islam harus menang. (“Hanya Negara Islam Yang Kami Amanatkan Kepada Anggota Konstitusi”, Daulah Islamiyyah th.I/Januari 1957).
 Landasan hukum yang diambil Isa Anshari tersebut berdasarkan pada ayat yang berbunyi “...Barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah:44)
 Adapun poin Ketuhanan Yang Maha Esa dalam pancasila yang dijadikan alasan indikasi negara Islam oleh lawan politiknya, Isa Anshari menilai sangat tidak tepat.
 “Kalau hanya ketuhanan yang maha Esa itu timpang, Islam itu pondasinya ada dua yaitu dua kalimat syahadat (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah). Kalau mau pancasila ditambah asasnya yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dan Muhammad utusanNya. Kalau Tuhan saja itu takhayyul, bagaimana kita mengenal Allah kalau tidak melalui utusannya.” Kata Pepen menyampaikan pendapat Isa Anshari.
 Oleh karena itu kata Pepen, Isa Anshari sangat memperjuangkan dimasukkkanya piagam Jakarta dengan point Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya. Setidakya ini bisa mewakili makna kalimat dua syahadat.

Selengkapnya